);

Pulang Lebih Awal, Suami tak Sengaja Lihat Istri Mandi dengan Pintu Terbuka Sambil Begini

Aku benar-benar tidak habis pikir dan langsung memarahinya

“Kamu tidak punya sopan santun ya? Apa tidak malu kamu telanjang dilihat orang? Untung aku yang masuk ke rumah, bagaimana jika orang lain yang masuk? ”

Dia menjawab, “Sayang, ayo kesini, masuk ke kamar mandi bersama saya!”

Awalnya saya agak ragu dan bertanya-tanya dalam hati, tapi akhirnya aku masuk ke kamar mandi juga.

“Nah, kamu lihat, dari sini kita bisa melihat jelas kedua anak kita, kalau aku menutup pintu kamar mandinya, lalu siapa yang akan mengawasi mereka.”

Bukan cuma itu, aku perhatikan istriku denga seksama ada beberapa bekas luka di tangannya dan bahwa betisnya juga mengalami varises, selain itu juga ada bagian tubuhnya yang memar.

Aku menanyakan bagaimana dia bisa mempunyai semua luka itu, dia menjelaskan bahwa semua itu terjadi saat dia melakukan pekerjaan rumah juga saat mengurus anak kami, tangannya melepuh terkena air panas untuk menyeduh susu, varisesnya terjadi karena dia mengangkat barang berat cukup lama…

Tepat saat itu, anak kedua kami menangis, tanpa berpakaian dan dengan hanya mengenakan handuk, istriku segera menghampiri anak kami, dia segera berusaha menenangkannya.

Ternyata anak kami mengompol, dan dia segera mengganti celananya, celana yang kotor itu ditaruh ke keranjang cucian, saat itu saya baru menyadari satu hal.

Biasanya saat pulang kerja di waktu biasa, semua cucian sudah selesai dicuci, kali ini saya melihat di tumpukan baju kotor itu, ada bajuku, bajunya, serta baju kotor kedua anak kami, itu adalah satu tumpukan baju kotor yang sangat banyak.

Aku baru menyadari bahwa selama ini, tanpa aku ketahui, ternyata istriku telah menanggung beban pekerjaan yang begitu banyak.

Tiba-tiba hatiku terasa sakit, aku merasa sedih sekaligus malu. Aku baru sadar, saat itu anak pertama kami baru berusia hampir 4 tahun, anak kedua kami hampir berusia 1 tahun.

Aku merasa bodoh dan bersalah, bagaimana bisa selama ini aku tidak tahu kalau pekerjaan istriku sebegitu banyak, dan bahwa mengurus dua anak yang masih kecil ini, sebegitu repot.

Aku memeluk istriku, aku menangis dan meminta maaf padanya.

Sejak hari itu setiap ada kesempatan aku pasti akan membantu pekerjaan istri, dan kini, bukan hanya istri, aku sendiri tidak menutup pintu kamar mandi saat mandi, supaya aku juga bisa terus mengawasi anak-anak kami.

Aku rasa, seharusnya memang seperti ini, sebagai suami istri, sudah sepantasnya saling membantu dan bekerja sama satu sama lain.

Tidak ada yang lebih tinggi atau yang lebih rendah di antara suami istri. Kehidupan suami istri yang bahagia, hanya bisa terwujud, jika kedua belah pihak mau saling memahami dan saling pengertian.

Add Comment